Paradigma pengelolaan sumberdaya hutan terus mengalami pergeseran mulai dari sustainable yield forestry, sustainable forestry, dan sustainable forest management sebenarnya sudah mengacu pada kelestarian (sustainable) namun yang menjadi pembedanya adalah tujuan akhirnya. Hal ini mengakibatkan kerusakan hutan menjadi permasalahan besar di dunia termasuk Indonesia (termasuk dunia). Agroforestri dipertimbangkan sebagai sumber kekuatan bagi perkebunan di lahan marginal agar dapat mandiri dan menjadi pertanian yang berkelanjutan. Selain itu agroforestri juga berpotensi memiliki peran dalam tantangan keamanan pangan ketika peran sebagai keamanan lingkungan masih menjadi keuntungan utama dari sistem ini. Sistem agroforestri memiliki peran untuk turut menjaga kelestarian alam. Peran sebagai sistem penjaga, perbaikan maupun penyedia beberapa hal yang dapat menjaga kelestarian. Penggunaan lahan dengan berbagai tujuan dapat mengurangi adanya resiko secara ekonomis dan meningkatkan kestabilan sistem Agroforestri yang memenuhi prinsip-prinsip kelestarian ini juga berkembang di Desa Nglanggeran bahkan terbangun kolaborasi yang bagus antara landscape agroforestri dengan tata kelola ekowisata Gunung Api Purba. Keberadaan agroforestri di Desa Nglanggeran selain memberikan manfaat untuk pangan, papan dan energi juga memberikan fungsi penjagaan biodiversitas yang tinggi, konservasi tanah dan air dan juga panorama alam yang sangat indah. Hamparan pulau-pulau hijau dari koneksi pekarang, tegalan dan wono sangat potensial menjadi habitat satwa liar seperti kera ekor panjang, ayam hutan, berbagai jenis burung dan satwa liar lainnya. Selain itu juga bertambahnya sumber mata air, terjaganya telaga dan konservasi tanah serta air yang terjaga dengan baik. Keberadaan agroforestri di Desa Nglanggeran miniaturnya sudah seperti hutan alam. Semua ini terjadi karena masyarakat dari berbagai lintas generasi memahami akan pentingnya lingkungan dan alam. Hal ini terlihat dari program ekowisata yang berkembang dalam kawasan Gunung Api Purba berkembang maju dengan tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai kelestarian, bahkan program live in yang menjadi unggulan dan banyak diminati wisatawan juga berbasis kerahaman kehidupan dengan alam ini.
Praktek agroforestri bagus ini juga berkembang di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, hal ini ditunjukkan bahwa tahun 2004 mendapat juara ke-2 pada tingkat nasional. Selain itu Desa Nglanggeran juga mempunyai demplot agroforestri yang diinisiasi oleh Lab. Silvikultur dan Agroforestri, Fakultas Kehutanan UGM. Riset agroforestri untuk skripsi, tesis dan disertasi juga banyak dikembangkan. Selain itu juga program KKN-Tematik UGM. Harmoni kehidupan dengan alam sebagai jalan baru dalam dunia pewayangan diilustrasikan dalam suluk yang membawa pesan-pesan nilai kehidupan sangat tinggi yang disampaikan oleh dalang dalam berbagai lakon pementasan wayang. Harmoni kehidupan dengan alam ini menjadi inisiasi kreasi dunia pewayangan dan tata kelola sumberdaya alam di pedesaan dengan kolaborasi baru suluk agroforestri. Atas dasar ini maka agroforestri di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran sangat potensial sebagai sumber inspirasi dan rujukan para pihak khususnya mahasiswa dan generasi muda sebagai jalan baru kehidupan yang harmoni dengan alam. Narasumber yang berkompeten mulai dari Dalang kondang Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro, dan Dosen yang berkompeten di bidang ‘Agroforestri’ akan memaparkan secara gamblang terkait dengan tema video ini.
Pemaparan ini disampaikan oleh Ari Susanti, S.Hut., M.Sc., Ph.D (Tim Strategi Jangka Benah, Fakultas Kehutanan, UGM)..
Wanagama bukan hanya hutan, namun lebih dari itu. Ekosistem yang terbangun bisa dimanfaatkan dengan baik melalui inovasi-inovasi berbagai bidang. Siapa sangka corak daun yang ada di wanagama bisa digunakan untuk membuat motif cetak batik.
Tim peneliti Fakultas Kehutanan UGM melakukan penelitian multi-years untuk mengumpulkan data hidrometeorologi di landscape gambut Semenanjung Kampar Riau untuk memperoleh evidence perubahan faktor-faktor hidrometeorologi ekosistem gambut. Basis data tersebut kemudian digunakan untuk membangun sistem peringatan dini (early warning system) kebakaran lahan dan hutan bersama tim peneliti dari ITB dan IPB.
Sebagian besar petani sawit di pedesaan sudah mengenal budidaya tanaman sawit dilakukan secara monokultur karena dipandang efisien sehingga bisa memaksimalkan keuntungan. Namun, bagi petani skala kecil, budidaya secara monokultur ternyata dapat meningkatkan kerentanan pendapatan keluarga. Hal ini karena sumber pendapatan keluarga menjadi bergantung hanya pada satu komoditas saja. Saat harga kelapa sawit di pasar global turun, maka secara otomatis harga jual sawit di tingkat petani ikut turun drastis, yang langsung berdampak pada menurunnya kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka. Salah satu strategi untuk mengurangi risiko investasi sawit bagi petani kecil adalah dengan menerapkan pola agroforestry sawit atau sering dikenal dengan wanatani sawit. Pada agroforestry sawit ini, satu hamparan lahan yang biasanya ditanami sawit secara monokultur, dapat dicampur dengan jenis tanaman lain yang dapat saling mendukung produksinya sehingga dapat menguntungkan petani.