Sebagian besar petani sawit di pedesaan sudah mengenal budidaya tanaman sawit dilakukan secara monokultur karena dipandang efisien sehingga bisa memaksimalkan keuntungan. Namun, bagi petani skala kecil, budidaya secara monokultur ternyata dapat meningkatkan kerentanan pendapatan keluarga. Hal ini karena sumber pendapatan keluarga menjadi bergantung hanya pada satu komoditas saja. Saat harga kelapa sawit di pasar global turun, maka secara otomatis harga jual sawit di tingkat petani ikut turun drastis, yang langsung berdampak pada menurunnya kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka. Salah satu strategi untuk mengurangi risiko investasi sawit bagi petani kecil adalah dengan menerapkan pola agroforestry sawit atau sering dikenal dengan wanatani sawit. Pada agroforestry sawit ini, satu hamparan lahan yang biasanya ditanami sawit secara monokultur, dapat dicampur dengan jenis tanaman lain yang dapat saling mendukung produksinya sehingga dapat menguntungkan petani.